• Home
    • Terkini

      loading...
    • Terpopuler

      loading...
  • Peristiwa
    • Peristiwa Terkini

      loading...
  • Anggaran
    • Anggaran Terkini

      loading...
  • Kebijakan
    • Kebijakan Terkini

      loading...
  • Korupsi
    • Korupsi Terkini

      loading...
  • Opini
    • Opini Terkini

      loading...
  • Politik
  • Bisnis
    • Bisnis Terkini

      loading...

Jakarta, Klikanggaran.com (25-02-2018) - Sungguh aneh dan hanya bikin nyinyir saja BPJS Ketenagakerjaan di mata publik. Masa ada penempatan saham dari dana program JHT (Jaminan Hari Tua) pada penerbangan perusahaan nasional PT Garuda Indonesia yang sedang mengalami kerugian. Demikian disampaikan oleh seorang pengamat.

Seharusnya, pihak pengawas dewan BPJS "mengerem" atau kasih kode hati-hati kepada pihak Direktur Utama, Agus Susanto, dalam penempatan dana program JHT di PT Garuda Indonesia sebesar Rp 146 miliar atau senjumlah 295.625.322 lembar saham.

Yang paling ditakuti, bisa-bisa dana investasi dalam bentuk saham BPJS Ketenagakerjaan kepada PT Garuda Indonesia, berpotensi default atau gagal bayar. Karena PT Garuda mengalami kerugian dalam pendapatan core bisnis mereka.

Sebagaimana yang sudah-sudah dan bukan rahasia umum lagi, bahwa PT Garuda Indonesia pada tahun 2016 saja mengalami kerugian sebesar USD.96.498.905 atau setara dengan Rp 1,2 triliun pada 31 Maret 2017. Kondisi tersebut membuat banyak pihak menilai, tidak pantas saja BPJS Ketenagakerjaan membeli saham Garuda Indonesia.

Pesan publik, Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan yang terdiri dari Guntur Witjaksono, Syafri Adnan Baharuddin, Eko Darwanto, Rekson Silaban, M. Aditya Warman, Indra D. Hasman, dan Poempida Hidayatullah, jangan hanya makan gaji besar dari "perusahaan" BPJS Ketenagakerjaan. Tetapi, harus bekerja keras mengawasi para direksi yang dipimpin oleh Agus Susanto, khususnya dalam penempatan dana BPJS Ketenagakerjaan untuk kebutuhan investasi BPJS Ketenagakerjaan.

Berita Terkini

loading...

Berita Terpopuler

loading...